MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN IDENTITAS NASIONAL (BAGIAN 3)

Tuesday, March 18, 2014

print this page
send email

1. Pengertian Identitas Nasional
Istilah  identitas  nasional  dapat  disamakan  dengan  identitas  kebangsaan. Secara  etimologis  ,  identitas  nasional  berasal  dari  kata  “identitas”  dan  “nasional”.
Kata  identitas  berasal  dari  bahasa  Inggris  identity  yang  memiliki pengertian  harfiah;  ciri,  tanda  atau  jati  diri  yang  melekat  pada  seseorang, kelompok atau . sesuatu sehingga membedakan dengan yang lain.

Kata “nasional” merujuk pada  konsep kebangsaan. Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identiti yang memiliki pengerian harfiah  ciri-ciri,  tanda-tanda  atau  jati  diri  yang  melekat  pada  seseorang  atau  sesuatu  yang membedakannya dengan yang lain.

Jadi,  pegertian  Identitas  Nsaional  adalah  pandangan  hidup  bangsa, kepribadian  bangsa,  filsafat  pancasila  dan  juga  sebagai  Ideologi  Negara sehingga  mempunyai  kedudukan  paling  tinggi  dalam  tatanan  kehidupan berbangsa  dan  bernegara  termasuk  disini  adalah  tatanan  hukum  yang berlaku  di  Indonesia,  dalam  arti  lain  juga  sebagai  Dasar  Negara  yang merupakan  norma  peraturan  yang  harus  dijnjung  tinggi  oleh  semua  warga Negara  tanpa  kecuali  “rule  of  law”,  yang  mengatur  mengenai  hak  dan kewajiban  warga  Negara,  demokrasi  serta  hak  asasi  manusia  yang berkembang semakin dinamis di Indonesia.


2. Unsur - Unsur Identitas Nasional
Identitas  Nasional  Indonesia  merujuk  pada  suatu bangsa yang  majemuk. Ke-majemukan  itu  merupakan  gabungan  dari  unsur-unsur  pembentuk identitas, yaitu suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa.

a. Suku Bangsa

adalah  golongan  sosial  yang  khusus  yang  bersifat  askriptif  (ada  sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan  umur  dan jenis kelamin.  Di Indonesia  terdapat  banyak  sekali  suku  bangsa  atau  kclompok  etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.

b. Agama

bangsa  Indonesia  dikenal  sebagai  masyarakat  yang  agamis.  Agama-agama  yang tumbuh  dan  berkembang di  Nusantara adalah  agama  Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada  masa  Orde  Baru  tidak  diakui  sebagai  agama  resmi  negara,  tetapi sejak  pemerintahan  Presiden  Abdurrahman  Wahid,  istilah  agama  resmi negara dihapuskan.

c. Kebudayaan
adalah  pengetahuan manusia sebagai  makhluk  sosial yang  isinya adalah perangkat-perangkat  atau model-model pengetahuan yang secara kolektif digunakan  oleh  pendukung-pendukungnya  untuk  menafsirkan  dan memahami  lingkungan  yang  dihadapi  dan  digunakan  sebagai  rujukan atau pedoman  untuk bertindak (dala bentuk kelakuan dan benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

d. Bahasa

merupakan  unsur  pendukung  identitas  nasional  yang  lain.  Bahasa dipahami  sebagai  sistem  perlambang  yang  secara  arbitrer  dibentuk  atas unsur-unsur  bunyi  ucapan  manusia  dan  yang  digunakan  sebagai  sarana berinteraksi antar manusia. Dari  unsur-unsur  identitas  Nasional  tersebut  dapat  dirumuskan pembagiannya menjadi 3 bagian sebagai berikut :
  1. Identitas Fundamental, yaitu  Pancasila  yang  merupakan  Falsafah  Bangsa,  Dasar  Negara,  dan ldeologi Negara.
  2. Identitas Instrumental, yang  berisi  UUD  1945  dan  Tata  Perundangannya,  Bahasa  Indonesia, Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya".
  3. Identitas Alamiah, yang  meliputi  Negara  Kepulauan  (archipelago)  dan  pluralisme  dalam suku, bahasa, budaya, serta agama dan kepercayaan (agama). Menurut  sumber  lain  (http://goecities.com/sttintim/jhontitaley.html) disebutkan bahwa: Satu jati diri dengan dua identitas :
  • Identitas Primordial
  1. Orang dengan berbagai latar belakang  etnik dan budaya: jawab, batak, dayak, bugis, bali, timo, maluku, dsb.
  2. Orang  dengan  berbagai  latar  belakang  agama  :  Islam,  Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, dan sebagainya.
  • Identitas Nasional
  1. Suatu konsep kebangsaan yang tidak pernah ada padanan sebelumnya.
  2. Perlu diruuskan oleh suku-suku tersebut.

Istilah  Identitas  Nasional  secara  terminologis  adalah  suatu  ciri  yang dimiliki  oleh  suatu  bangsa  yang  secara  filosofis  membedakan  bangsa tersebut dengan bangsa lain.

Eksistensi  suatu  bangsa  pada  era  globalisasi  yang  sangat  kuat  terutama karena  pengaruh  kekuasaan  internasional.  Menurut  Berger  dalam  The Capitalist  Revolution, era globalisasi dewasa ini, ideology kapitalisme  yang akan menguasai dunia. Kapitalisme telah mengubah masyarakat satu persatu dan  menjadi  sistem  internasional yang  menentukan nasib ekonomi sebagian besar  bangsa-bangsa  di dunia,  dan  secara tidak  langsung  juga  nasib,  social, politik dan kebudayaan. Perubahan global ini menurut Fakuyama membawa perubahan  suatu  ideologi,  yaitu  dari  ideologi  partikular  kearah  ideology universal  dan  dalam  kondisi  seperti  ini  kapitalismelah  yang  akan menguasainya.

Dalam  kondisi  seperti  ini,  negara  nasional  akan  dikuasai  oleh  negara transnasional  yang  lazimnya  didasari  oleh  negara-negara  dengan  prinsip kapitalisme.  Konsekuensinya,  negara-negara  kebangsaan  lambat  laun  akan semakin  terdesak.  Namun  demikian,  dalam  menghadapi  proses  perubahan tersebut  sangat tergantung  kepada  kemampuan bangsa itu  sendiri.  Menurut Toyenbee,  cirri  khas  suatu  bangsa  yang  merupakan  local  genius  dalam menghadapi  pengaruh  budaya  asing  akan  menghadapi  Challence  dan response. Jika Challence cukup besar sementara response kecil maka bangsa tersebut  akan  punah  dan  hal  ini sebagaimana  terjadi  pada  bangsa  Aborigin di  Australia  dan  bangfsa  Indian  di  Amerika.  Namun  demikian  jika Challance  kecil  sementara  response  besar  maka  bangsa  tersebut  tidak  akan berkembang  menjadi  bangsa  yang  kreatif.  Oleh  karena  itu  agar  bangsa Indonesia  tetap  eksis  dalam  menghadapi  globalisasi  maka  harus  tetap meletakkan  jati  diri  dan  identitas  nasional  yang  merupakan  kepribadian bangsa  Indonesia  sebagai  dasar  pengembangan  kreatifitas  budaya globalisasi.  Sebagaimana  terjadi  di  berbagai  negara  di  dunia,  justru  dalam era  globalisasi  dengan  penuh  tantangan  yang  cenderung  menghancurkan nasionalisme, muncullah kebangkitan kembali kesadaran nasional.


3. Identitas Nasional Indonesia
  • Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia
  • Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
  • Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
  • Lambang Negara yaitu Pancasila
  • Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
  • Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila
  • Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
  • Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
  • Konsepsi Wawasan Nusantara
  • Kebudayaan  daerah  yang  telah  diterima  sebagai  Kebudayaan  Nasional

4. Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional Faktor-faktor  yang  mendukung  kelahiran  identitas  nasional  bangsa Indonesia meliputi:
  • Faktor  Objektif,  yang  meliputi  faktor  geografis-ekologis  dan demografis
  • Faktor  Subjektif,  yaitu  faktor  historis, social,  politik,  dan  kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesia (Suryo, 2002) 
Menurut  Robert  de  Ventos,  dikutip  Manuel  Castelles  dalam  bukunya “The  Power  of  Identity”  (Suryo,  2002),  munculnya  identitas  nasional  suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis ada 4 faktor penting, yaitu:
  • Faktor  primer,  mencakup  etnisitas,  territorial,  bahasa,  agama,  dan yang sejenisnya.
  • Faktor  pendorong,  meliputi  pembangunan  komunikasi  dan  teknologi,lahirnya  angkatan  bersenjata  modern  dan  pembanguanan  lainnya dalam kehidupan bernegara.
  • Faktor  penarik,  mencakup  modifikasi  bahasa  dalam  gramatika  yang resmi,  tumbuhnya  birokrasi,  dan  pemantapan  sistem  pendidikan nasional
  • Faktor  reaktif,  pada  dasarnya  tercakup  dalam  proses  pembentukan identitas  nasional  bangsa  Indonesia yang  telah berkembang dari masa sebelum  bangsa  Indonesia  mencapai  kemerdekaan  dari  penjajahan bangsa lain.

Faktor  pembentukan  Identitas  Bersama.  Proses  pembentukan  bangsa-negara  membutuhkan  identitas-identitas  untuk  menyataukan  masyarakat bangsa  yang  bersangkutan.  Faktor-faktor  yang  diperkirakan  menjadi identitas bersama suatu bangsa, yaitu :
  • Primordial
  • Sakral
  • Tokoh
  • Bhinneka Tunggal Ika
  • Sejarah
  • Perkembangan Ekonomi
  • Kelembagaan

Faktor-faktor  penting  bagi  pembentukan  bangsa  Indonesia  sebagai
berikut :
  • Adanya  persamaan  nasib,  yaitu  penderitaan  bersama  dibawah penjajahan bangsa asing lebih kurang selama 350 tahun
  • Adanya  keinginan  bersama  untuk  merdeka  ,  melepaskan  diri  dari belenggu penjajahan
  • Adanya  kesatuan  tempat  tinggal  ,  yaitu  wilayah  nusantara  yang membentang dari Sabang sampai Merauke
  • Adanya  cita-cita  bersama  untuk  mencapai  kemakmuran  dan  keadilan sebagai suatu bangsa

5.  Cita- Cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia.
Bangsa  Indonesia  bercita-cita  mewujudkan  negara  yang  bersatu, berdaulat,  adil  dan  makmur.  Dengan  rumusan  singkat,  negara  Indonesia bercita-cita  mewujudkan  masyarakat  Indonesia  yang  adil  dan  makmur berdasarkan Pancasila dan  UUD  1945.  Hal  ini sesuai dengan amanat dalam Alenia  II  Pembukaan  UUD  1945  yaitu  negara  Indonesia  yang  merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
Tujuan  Negara  Indonesia  selanjutnya  terjabar  dalam  alenia  IV Pembukaan UUD 1945. Secara rinci sbagai berikut :
  1. Melindungi  seganap  bangsa  Indonesia  dan  seluruh  tumpah  darah Indonesia
  2. Memajukan kesejahteraan umum
  3. Mencerdaskan Kehidupan bangsa
  4. Ikut  melaksanakan  ketertiban  dunia  yang  berdasarkan  kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial
Adapun  visi  bangsa  Indonesia adalah  terwujudnya  masyarakat  Indonesia yang  damai  ,  demokratis,  berkeadilan,  berdaya  saing,  maju  dan  sejahtera, dalam  wadah  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  yang  didukung  oleh manusia  Indonesia  yang  sehat,  mandiri,  beriman,  bertakwa  dan  berahklak mulia, cinta tanah air, berkesadaran  hukum dan lingkungan, mengausai ilmu pengetahuandan  teknologi,  serta  memiliki  etos  kerja  yang  tinggi  serta berdisiplin.

Setelah  tidak  adanya GBHN  makan  berdasarkan Rencana  Pembangunan Jangka  mengenah  (RPJM)  Nasional  2004-2009,  disebutkan  bahwa  Visi
pembangunan nasional adalah :
  1. Terwujudnya  kehidupan  masyarakat  ,  bangsa  dan  negara  yang  aman, bersatu, rukun dan damai.
  2. Terwujudnya  masyarakat  ,  bangsa  dan  negara  yang  menjujung  tinggi hukum, kesetaraan, dan hak asasi manusia.
  3. Terwujudnya  perekonomian  yang  mampu  menyediakan  kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan fondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.

6.  Pancasila sebagai Kepribadian dan Identitas Nasional
Bangsa  Indonesia  sebagai  salah  satu  bangsa  dari  masyarakat internasional,  memilki  sejarah  serta  prinsip  dalam  hidupnya  yang  berbeda dengan bangsa-bangsa lain  di dunia.  Tatkala bangsa Indonesia  berkembang menujufase  nasionalisme modern, diletakanlan  prinsip-prinsip  dasar filsafat sebagai suatu asas dalam filsafat hidup berbangsa dan bernagara.   Prinsip-prinsip  dasar  itu  ditemukan  oleh  para  pendiri  bangsa  yang diangkat dari filsafat hidup bangsa Indonesia, yang kemudian diabstraksikan menjadi  suatu  prinsip  dasar  filsafat  Negara  yaitu  Pancasila.  Jadi,  filsafat suatu  bangsa  dan  Negara  berakar  pada  pandangan  hidup  yang  bersumber pada kepribadiannya sendiri.  Dapat pula  dikatakan pula bahwa pancasila  sebagai dasar filsafat bangsa dan  Negara  Indonesia pada  hakikatnya  bersumber kepada nilai-nilai budaya dan  keagamaan  yang  dimiliki  oleh  bangsa  Indonesia  sebagai  kepribadian bangsa.

Jadi,  filsafat  pancasila  itu  bukan  muncul  secara  tiba-tiba  dan dipaksakan suatu rezim atau penguasa melainkan melalui suatu historis yang cukup panjang. Sejarah budaya bangsa sebagai akar Identitas Nasional.  Menurut sumber lain : (http://unisosdem.org.kliping_detail.php/?aid=7329&coid=1&caid=52)
disebutkan  bahwa:  kegagalan  dalam  menjalankan  dan  medistribusikan output  berbagia  agenda  pembangnan  nasional  secaralebih  adil  akan berdampak  negatif  pada  persatuan  dan  kesatuan  bangsa. 

Pada  titik  inilah semangat  Nasionalisme  akan  menjadi  slah  satu  elemen  utama  dalam memperkuat  eksistensi  Negara/Bangsa.  Study  Robert  I  Rotberg  secara eksplisit  mengidentifikasikan  salah  satu  karakteristik  penting Negara  gagal (failed  states)  adalah  ketidakmampuan  negara  mengelola  identitas  Negara    yang  tercermin  dalam  semangat  nasionalisme  dalam  menyelesaikan berbagai persoalan nasionalnya. Ketidakmampuan ini dapat memicu intra dan interstatewar secara hamper bersamaan. 

Penataan,  pengelolaan,  bahkan  pengembangan  nasionalisme dalam  identitas  nasional,  dengan  demikian  akan  menjadi  prasyarat  utama bagi  upaya  menciptakan  sebuah  Negara  kuat  (strong  state).  Fenomena globalisasi  dengan  berbagai  macam  aspeknya  seakan  telah  meluluhkan batas-batas  tradisional  antarnegara,  menghapus  jarak  fisik  antar  negara  bahkan  nasionalisme  sebuah  negara.  Alhasil,  konflik  komunal  menjadi fenomena umum  yang  terjadi  diberbagai  belahan  dunia, khususnya  negara- negara berkembang.  Konflik-konflik  serupa  juga  melanda  Indonesia.  Dalam  konteks Indonesia,  konflik-konflik  ini  kian  diperuncing  karekteristik  geografis Indonesia. Berbagai tindakan  kekerasan (separatisme) yang dipicu sentimen etnonasionalis yang terjadi  di  berbagai wilayah Indonesia bahkan menyedot perhatian  internasional.  Nasionalisme  bukan  saja  dapat  dipandang  sebagai sikap  untuk  siap  mengorbankan  jiwa  raga  guna  mempertahankan  Negara dan  kedaulatan  nasional,  tetapi  juga  bermakna  sikap  kritis  untuk  member  kontribusi positif terhadap segala aspek pembangunan nasional.  Dengan  kata  lain,  sikap  nasionalisame  membutuhkan  sebuah  wisdom dalam  mlihat  segala  kekurangan  yang  masih  kita  miliki  dalam  kehidupan bermasyarakat,  berbangsa,  dan  bernegara,  dan  sekaligus  kemauan  untuk terus mengoreksi diri demi tercapainya cita-cita nasional. Makna  falsafah  dalam  pembukaan  UUD  1945,  yang  berbunyi  sebagai berikut :
  1. Alinea pertama menyatakan:  “Bahwa  sesungguhnya  kemerdekaan  itu  hak  segala  bangsa  dan  oleh sebab  itu maka  penjajahan  di atas dunia harus  dihapuskan ,  karena tidak sesuai  dengan  perikemanusiaan  dan  perikeadilan.  Maknanya, kemerdekaan  adalah  hak  semua  bangsa  dan  penjajahan  bertentangan dengan hak asasi manusia.
  2. Alinea kedua menyebutkan: “  dan  perjuangan  kemerdekaaan  Indonesia  telah  sampailah  kepada  saat yang  berbahagia dengan  selamat  sentosa  mengantarkan  rakyat  Indonesia kepada  depan  gerbang  kemerdekaan  Negara  Indonesia  yang  merdeka,berdaulat,  adil, dan makmur. Maknanya:  adanya masa depan  yang harus  diraih (cita-cita).
  3. Alinea ketiga menyebutkan:  “  atas  berkat  rahmat  Allah  yang  maha  kuasa  dan  dengan  didorong  oleh keinginan  luhur  supaya  berkehidupan  kebangsaan  yang  bebas  maka rakyat  Indonesia  menyatakan  dengan  ini  kemerdekaannya.  Maknanya, bila  Negara  ingin  mencapai  cita-cita  maka  kehidupan  berbangsa  dan bernegara  harus  mendapat  ridha  Allah  SWT  yang  merupakan  dorongan spiritual.
  4. Alinea keempat menyebutkan:  “  kemudian  daripada  itu  untuk  membentuk  suatu  pemerintahan  Negara Indonesia  yang  melindungi  segenap  bangsa  Indonesia  dan  seluruh  tumpah  darah  Indonesia  dan  untuk  memajukan  kesejahteraan  umum, menmcerdaskan  kehidupan  bangsa,  dan  ikut  melaksanakan  ketertiban dunia  yang  berdasarkan  kemerdekaan,  perdamaian  abadi  dan  keadilan sosial,  maka  disusunlah  kemerdekaan  kebangsaan  Indonesia  itu  dalam susunan  Negara  republik  Indonesia  yang  berkedaulatan  rakyat  dan berdasarkan  kepada:  ketuhanan  yang  maha  esa,  kemanusiaan  yang  adil dan  beradab,  persatuan  Indonesia  dan  kerakyatan  yang  dipimpin  oleh hikmat  kebijaksanaan  dalam  permusyawaratan/perwakilan,  serta  dengan mewujudkan  keadilan  sosial  bagi  seluruh  rakyat  Indonesia.  Alinea  ini mempertegas cita-cita yang  harus  dicapai oleh bangsa Indonesia  melalui wadah Negara kesatuan republik Indonesia.

7. Keterkaitan Identitas Nasional dengan Globalisasi

Identitas  nasional  pada  hakikatnya  merupakan  manifestasi  nilai-nilai budaya  yang  tumbuh  dan  berkembang  dalam  berbagai  aspek  kehidupan  suatu  bangsa  dengan  ciri-ciri  khas.  Dengan  ciri-ciri  khas  tersebut,  suatu  bangsa  berbeda  dengan  bangsa  lain  dalam  hidup  dan  kehidupannya.

Diletakkan  dalam  konteks  Indonesia,  maka  Identitas  Nasional  itu merupakan  manifestasi  nilai-nilai  budaya  yang  sudah  tumbuh  dan  berkembang  sebelum  masuknya  agama-agama  besar  di  bumi  nusantara  ini  dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang kemudian dihimpun dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan Nasional dengan acuan  Pancasila  dan  roh  Bhinneka  Tunggal  Ika  sebagai  dasar  dan  arah  pengembangannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Dengan  perkataan  lain,  dapat  dikatakan  bahwa  hakikat  identitas  asional  kita sebagai  bangsa di dalam hidup dan kehidupan  berbangsa  dan bernegara  adalah  Pancasila  yang  aktualisasinya  tercermin  dalam  berbagai  penataan kehidupan  kita  dalam  arti  luas,  misalnya  dalam  Pembukaan  beserta  UUD  kita,  sistem  pemerintahan  yang  diterapkan,  nilai-nilai  etik,  moral,  tradisi, bahasa, mitos, ideologi, dan lain sebagainya yang secara normatif diterapkan di dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun internasional.

Perlu dikemukakan  bahwa  nilai-nilai  budaya  yang  tercermin  sebagai  Identitas Nasional  tadi  bukanlah  barang  jadi  yang  sudah  selesai  dalam  kebekuan  normatif  dan  dogmatis,  melainkan  sesuatu  yang  terbuka-cenderung  terus  menerus bersemi sejalan dengan hasrat menuju kemajuan yang  dimiliki oleh masyarakat pendukungnya. Konsekuensi  dan  implikasinya  adalah  identitas  nasional  juga  sesuatu   yang  terbuka,  dinamis,  dan  dialektis  untuk  ditafsir  dengan  diberi  makna  baru  agar  tetap  relevan  dan  funsional  dalam  kondisi  aktual  yang berkembang dalam masyarakat.   Krisis  multidimensi  yang  kini  sedang  melanda  masyarakat  kita  menyadarkan  bahwa  pelestarian  budaya  sebagai  upaya  untuk mengembangkan  Identitas Nasional  kita  telah ditegaskan  sebagai komitmen konstitusional  sebagaimana dirumuskan oleh  para pendiri negara kita dalaM Pembukaan,  khususnya  dalam  Pasal  32  UUD  1945  beserta  penjelasannya,

yaitu : “Pemerintah memajukan Kebudayan Nasional Indonesia “ yang diberi penjelasan :
”  Kebudayan  bangsa  ialah  kebudayaan  yang  timbul  sebagai  buah  usaha budaya  rakyat  Indonesia  seluruhnya.  Kebudayaan  lama  dan  asli  terdapat Bebagi  puncak-puncak  kebudayaan  di  daerah-daerah  seluruh  Indonesia, terhitung  sebagai  kebudayaan  bangsa.  Usaha  kebudayaan  harus  menuju  ke arah  kemajuan  adab,  budaya  dan  persatuan  dengan  tidak  menolak  bahan- bahan  baru  dari  kebudayaan  asing  yang  dapat  memperkembangkan  atau memperkaya  kebudayaan  bangsa  sendiri  serta  mempertinggi  derajat kemanusiaan bangsa Indonesia “.

Kemudian  dalam  UUD  1945  yang  diamandemen  dalam  satu  naskah disebutkan dalam Pasal 32
  1. Negara  memajukan  kebudayan  Nasional  Indonesia  di  tengah  peradaban dunia  dengan menjamin  kebebasan  masyarakat  dalam  memeliharra  dan mengembangkan nilai-nilai budaya.
  2. Negara  menghormati  dan  memelihara  bahasa  daerah  sebagai  kekayaan budaya nasional.
Dengan demikian secara konstitusional, pengembangan kebudayan untuk membina  dan mengembangkan  identitas nasional kita telah  diberi dasar dan arahnya,  terlepas  dari  apa  dan  bagaimana  kebudayaan  itu  dipahami  yang  dalam khasanah  ilmiah terdapat  tidak  kurang  dari  166 definisi sebagaimana dinyatakan oleh Kroeber dan Klukhohn di tahun 1952.

Kata  "globalisasi"  diambil  dari  kata  global,  yang  maknanya  ialah   universal.  Globalisasi belum memiliki  definisi  yang  mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition),  sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.  Ada  yang  memandangnya  sebagai  suatu  proses  sosial,  atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara  di  dunia  makin  terikat  satu  sama  lain,  mewujudkan  satu  tatanan kehidupan  baru  atau  kesatuan  ko-eksistensi  dengan  menyingkirkan  batas- batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.Globalisasi  mempengaruhi  hampir semua  aspek  yang ada di  masyarakat,  termasuk  diantaranya  aspek  budaya.  Kebudayaan  dapat  diartikan  sebagai nilai-nilai  (values)  yang  dianut  oleh  masyarakat  ataupun  persepsi  yang   dimiliki  oleh  warga  masyarakat  terhadap  berbagai  hal.  Baik  nilai-nilai maupun  persepsi  berkaitan  dengan  aspek-aspek  kejiwaan/psikologis,  yaitu apa  yang  terdapat  dalam  alam  pikiran.

Aspask-aspek  kejiwaan  ini  menjadi   penting  artinya  apabila  disadari,  bahwa  tingkah  laku  seseorang  sangat  dipengaruhi  oleh  apa  yang  ada  dalam  alam  pikiran  orang  yang  bersangkutan.  Sebagai  salah  satu  hasil  pemikiran  dan  penemuan  seseorang  adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.  Globalisasi  sebagai  sebuah  gejala  tersebarnya  nilai-nilai  dan  budaya tertentu  keseluruh  dunia  (sehingga  menjadi  budaya  dunia  atau  world culture)  telah  terlihat  semenjak  lama.  Cikal  bakal  dari  persebaran  budaya  dunia  ini  dapat  ditelusuri  dari  perjalanan  para  penjelajah  Eropa  Barat  ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ). Namun,  perkembangan  globalisasi  kebudayaan  secara  intensif  terjadi  pada  awal  ke-20  dengan  berkembangnya  teknologi  komunikasi.  Kontak  melalui media  menggantikan  kontak fisik  sebagai  sarana utama komunikasi antarbangsa.  Perubahan  tersebut  menjadikan  komunikasi  antarbangsa  lebih mudah  dilakukan,  hal   ni  menyebabkan  semakin  cepatnya  perkembangan globalisasi kebudayaan.

Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
  1. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
  2. Penyebaran  prinsip  multikebudayaan (multiculturalism),  dan  kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
  3. Berkembangnya turisme dan pariwisata.
  4. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
  5. Berkembangnya  mode  yang  berskala  global,  seperti  pakaian,  film  dan lain lain.
  6. Bertambah  banyaknya  event-event  berskala  global,  seperti  Piala  Dunia FIFA.

Munculnya arus globalisme yang dalam hal ini  bagi sebuah Negara  yang sedang  berkembang akan  mengancam  eksistensinya sebagai  sebuah  bangsa. Sebagai  bangsa  yang  masih  dalam  tahap  berkembang  kita  memang  tidak suka  dengan  globalisasi  tetapi  kita  tidak  bisa  menghindarinya.  Globalisasi harus kita  jalani  ibarat kita  menaklukan  seekor  kuda  liar  kita yang  berhasil menunggangi  kuda  tersebut  atau  kuda  tersebut  yang  malah  menunggangi kita.  Mampu  tidaknya  kita  menjawab  tantangan  globalisasi  adalah bagaimana  kita  bisa  memahami  dan  malaksanakan  Pancasila  dalam  setiap kita berpikir dan bertindak. Persolan  utama  Indonesia  dalam  mengarungi  lautan  Global  ini  adalah masih  banyaknya  kemiskinan,  kebodohan  dan  kesenjangan  sosial  yang  masih  lebar.  Dari  beberapa  persoalan  diatas  apabila  kita  mampu  memaknai kembali Pancasila dan kemudian dimulai dari diri kita masing-masing untuk bisa  menjalankan  dalam  kehidupan sehari-hari, maka globalisasi  akan dapat kita arungi dan keutuhan NKRI masih bisa terjaga.


8. Keterkaitan Identitas Nasional 
Dengan Integrasi Nasional Indonesia Berbagai  peristiwa  sejarah  di negeri  ini  telah menunjukkan bahwa  hanya  persatuan  dan  kesatuanlah  yang  membawa  negeri  Indonesia  ini  menjadi  negeri  yang  besar.  Besarnya  kerajaan  Sriwijaya  dan  Majapahit  tidaklah mengalami  proses  kejayaan  yang  cukup  lama,  karena  pada  waktu  itu persatuan  cenderung  dipaksakan  melalui  ekspansi  perang  dengan menundukkan Negara- Negara tetangga.

Sangat  berbeda  dengan  proklamasi  kemerdekaan  Indonesia  17  Agustus 1945  yang  sebelum  proklamasi  tersebut  telah  didasari  keinginan  kuat  dari seluruh  elemen  bangsa  Indonesia  untuk  bersatu  dengan  mewujudkan  satu cita-cita  yaitu  bertanah  air  satu  tanah  air  Indonesia,  berbangsa  satu  bangsa Indonesia  dan  menggunakan  bahasa  melayu  sebagai  bahasa  persatuan (Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928). Dilihat dari banyak ragamnya suku, bangsa, ras, bahasa dan corak budayayang  ada  membuat  bangsa  ini  menjadi  rentan  pergesekan,  oleh  karena  itu para pendiri Indonesia telah menciptakan Pancasila sebagai dasar bernegara. 

Dilihat  dari  bentuknya  Pancasila  merupakan  pengalaman  sejarah  masa  lalu  untuk  menuju  sebuah  cita-cita  yang  luhur.  Pancasila  dilambangkan seekor burung Garuda yang mana burung tersebut dalam kisah pewayangan  melambangkan  anak  yang  berjuang  mencari  air  suci  untuk  ibunya,  sedangkan  pita  bertuliskan  Bhineka  Tunggal  Ika  berartikan  berbeda  tetapi tetap  satu.  Kemudian  tergantung  di  dada  burung  tersebut  sebuah  perisai yang  mana  biasanya  perisai  adalah  alat  untuk  menahan  serangan  perang  pada  jaman  dulu,  jadi  kalau  diartikan  untuk  menjaga  integritas  bangsa Indonesia  baik  itu  ancaman  dari  dalam  maupun  dari  luar  yaitu  dengan menggunakan perisai yang didalam nya terkandung lima sila. Dalam pidato bahasa  Inggris  di Washingt n  Sukarno  telah  mendapatkan apresiasi  yang  luar  biasa  dari  bangsa  Amerika  yang  mana  Sukarno  pada waktu  itu  mengenalkan  ideologi  Indonesia  yaitu  Pancasila.  Panca  berarti Lima  dan  sila  berarti  landasan atau  dasar  yang mana  dasar  pertama Negara Indonesia  ini  dalah  berdasar  Ketuhanan,  kedua  berdasar  Kemanusiaan, ketiga  persatuan  ,  dan  keempat  adalah  demokrasi,  serta  kelima  adalah keadilan social. Seringkali  bangsa  kita  ini  mengalami  disintegrasi  dan  kemudian  bersatu kembali  konon  kata  beberapa  tokoh  adalah  berkat  kesaktian  Pancasila. Sampai  pemerintah  juga  menetapkan  hari  kesaktian  pancasila  tanggal  1 Oktober. 

Hal  ini  menunjukan  bahwa  sebenarnya  Pancasila  hingga  saat  ini masih kuat relevansinya bagi sebuah ideology Negara seperti Indonesia ini. Untuk itu dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa hakikat identitas asional  kita  sebagai  bangsa  di  dalam  hidup  dan  kehidupan  berbangsa  dan bernegara  adalah  Pancasila  yang  aktualisasinya  tercermin  dalam  berbagai penataan kehidupan kita dalam arti luas, misalnya dalam Pembukaan beserta UUD  kita,  sistem  pemerintahan  yang  diterapkan,  nilai-nilai  etik,  moral, tradisi,  bahasa,  mitos,  ideologi,  dan  lain  sebagainya  yang  secara  normatif diterapkan  di  dalam  pergaulan,  baik  dalam  tataran  nasional  maupun internasional.


KESIMPULAN
Identitas  bagi  kebanyakan  orang  adalah  selembar  kartu  nama  yang mengukuhkan keberadaan mereka dengan sebuah nama, profesi dan kedudukan. Secara  etimologis,  kata  nation  berakar  dari  kata  Bahasa  Latin  natio.  Kata natio  sendiri  memiliki  akar  kata  nasci,  yang  dalam  penggunaan  klasiknya cendrung memiliki makna negatif (peyoratif).

Identitas  Nasional   secara  terminologis  adalah  suatu ciri yang  dimiliki oleh suatu  bangsa  yang  secara  filosofis  membedakan  bangsa  tersebut  dengan  bangsa yang  lain.  Istilah  kepribadian  sebagai  suatu  identitas  adalah  keseluruhan  atau totalitas  dari  faktor-faktor  biologis,  psikologis  dan  sosiologis  yang  mendasari tingkah  laku  individu.  Sedangkan  bangsa  pada  hakikatnya  adalah  sekelompok besar  manusia  yang  mempunyai  persamaan  nasib  dalam  proses  sejarahnya, sehingga  mempunyai  persamaan  watak  atau  karakter  yang  kuat  untuk  bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu sebagi suatu “kesatuan nasional”.

Oleh  karena  itu, agar  suatu  bangsa  khususnya  bangsa  Indonesia tetap  eksis dalam  menghadapi  globalisasi  maka  harus  tetap  meletakan  jatidiri  dan  identitas nasional  yang  merupakan  kepribadian  bangsa  Indonesia  sebagai  dasar pengembangan  kreatifitas  budaya  globalisasi.  Sebagaimana  terjadi  di  berbagai negara  di  dunia,  justru  dalam  era  globalisasi  dengan  penuh  tantangan  yang cenderung  menghancurkan  nasionalisme,  muncullah  kebangkitan  kembali kesadaran nasional.

DAFTAR PUSTAKA

H.  Kaelan  dan  H  Achmad  Zubaidi.  2007.  Pendidikan  Kewarganegaraan untuk Perguruan TinggiI. Yogyakarta: Paradigma
Notonagoro. 1997. Pancasila Secara Ilmiah Populer. Jakarta: Bumi Aksara.
http://goecities.com/sttintim/jhontitaley.html
http://unsosdem.org.kliping_detail.php/?aid=7329&coid=1&caid-52 google.com
http://price-mienu.blogspot.com/2010/01/identitas-nasional.html
http://badry7.blogspot.com/2014/03/makalah-pendidikan-kewarganegaraan-dan.html
htto://ipdn-artikelratis.blogspot.com/2008/09/keterkaitan-identitas-nasional-dengan.html
TC.Media, Edisi ke-5, Agustus 2008
Seabass86,7 mei 2009
http://www.hikmahbudhi.or.id/?p=32
http://yanel.wetpaint.com/page/Identitas+Nasional


Berhubung makalah ini terlampau panjang saya bagi menjadi 3 bagian, jadi anda bisa melihat kelanjutannya pada tombol link berikut :

Bagian 1                              Bagian 2


Demikian sedikit penjelasan seputar "Makalah Pendidikan kewarganegaraan dan Identitas Nasional" yang bisa saya himpun dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat dan dapat membantu anda. Wassalam.

Kumpulan Makalah yang lainnya lihat   DISINI



Cpx24.com CPM Program

0 Komentar:

Post a Comment

Pemberitahuan :
Mohon maaf apabila komentar Sobat dari Facebook tidak bisa saya jawab semua, dikarenakan sulit untuk memoderasi komentar dari Facebook, bila sobat ada pertanyaan yang ingin lansung saya jawab, silakan Sobat berkomentar dari id Blogger.

** Jika anda terbantu dengan apa yang ada di blog ini jangan lupa untuk IZIN COPAS dan Ucapan Terimasih pada kotak komentar di bawah.**



close
Chat